Sponsors Link

Cara Menghitung Laju Inflasi yang Umum Digunakan

Sponsors Link

Melihat fenomena harga yang ada saat ini, kita dapat melihat dan merasakan bahwa dari tahun ke tahun harga semakin meningkat. Sangat jarang sekali kita menemukan harga yang tergolong flat untuk berbagai jenis produk dan jasa. Harga yang terus meningkat maka akan mengurangi nilai dari sebuah mata uang itu sendiri. Sederhananya seperti ini, jika saat ini uang Rp 100.000 dapat digunakan untuk membeli misalkan 5 produk sekaligus atau membayar jasa tertentu dalam 1 hari, maka belum tentu pada tahun depan, uang Rp 100.000 masih bisa digunakan untuk membayar barang dan jasa dengan jenis yang sama pada tahun saat ini. Fenomena kenaikan harga dari tahun ke tahun ini secara ilmu ekonomi disebut dengan istilah Inflasi, sebaliknya jika terjadi penurunan harga dari tahun ke tahun maka disebut sebagai Deflasi (meskipun jarang sekali terjadi deflasi).

ads

Baca Juga:

Inflasi secara ilmu ekonomi adalah suatu proses yang terjadi dan memiliki dampak pada meningkatnya harga-harga barang dan jasa secara umum, dimana terjadinya peningkatan harga ini berlangsung secara terus menerus sebagai akibat adanya keterkaitan dengan perubahan aktivitas dan mekanisme pasar. Inflasi merupakan indikator penting dalam menentukan arah kebijakan-kebijakan ekonomi yang akan dijalankan oleh pemerintah melalui Bank Sentral. Berangkat dari sini, maka sangat penting sekali memantau perubahan laju inflasi dari tahun ke tahun, karena hal ini akan berkaitan dengan kestabilan ekonomi negara.

Baca juga :

Berikut 2 cara menghitung laju inflasi yang umum digunakan, yaitu:

  1. Indeks Harga Konsumen (IHK)

Pemantauan inflasi dari tahun ke tahun harus dilakukan secara cermat dengan melihat indikator-indikator perubahan harga pada komoditas tertentu. Tujuan dari pemantauan ini akan berkaitan langsung dengan efisiensi perencanaan paket kebijakan moneter yang akan diambil oleh Bank Sentral untuk kepentingan masa sekarang dan masa yang akan datang. Indikator yang paling sering digunakan untuk menganalisa dan mengukur laju inflasi adalah IHK (Indeks Harga Konsumen). IHK merupakan sebuah nilai yang digunakan untuk menghitung perubahan harga rata-rata terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. (baca juga : kebutuhan dasar manusia , Teori Perilaku Konsumen)

Perhitungan dengan IHK diperlukan sebuah perkiraan harga yang disusun secara statistik, dimana data harga yang digunakan merupakan hasil dari pengambilan sample harga terhadap beberapa jenis barang tertentu yang diperoleh dari berbagai pihak konsumen maupun produsen yang telah dikumpulkan dalam waktu tertentu dengan data yang akurat. Harga-harga yang diperoleh tersebut kemudian akan dianalisis dan dihitung berdasarkan jenis komoditas tertentu baik itu barang maupun jasa untuk ditentukan nilai indeks-nya dengan pembobotan sesuai dengan porsi terhadap jumlah total belanja masyarakat. IHK dihitung dalam kurun waktu setiap satu tahun dan dalam hitungan perbulandan, dimana nilai IHK dari tahun ke tahun akan mengalami perubahan yang fluktuatif, dari perubahan nilai IHK ini kemudian akan dijadikan sebagai acuan untuk menentukan laju inflasi.

ads

(baca juga : penyebab terjadinya inflasi , Badan Hukum Koperasi)

Dengan melihat pengertian dan perhitungan IHK diatas, maka secara garis besar untuk menyusun dan menghitung IHK diperlukan 2 jenis data atau parameter yang digunakan untuk menjelaskan dan menunjukkan dinamika IHK.  Kedua jenis data yang diperlukan tersebut adalah.

  1. Data Harga. Data ini diperoleh dari pengumpulan sample harga dari barang dan jasa di lokasi tertentu yang dilakukan secara sampling.
  2. Data Pembobotan. Data ini menunjukkan estimasi mengenai perbandingan antara total keseluruhan jenis belanja komoditas terhadap satu jenis komoditas tertentu.

(baca juga : faktor penawaran uang , Instrumen Pasar Uang )

Dalam mengumpulkan data harga dan data pembobotan, terdapat sebuah lembaga khusus yang melakukan peran tersebut. Di beberapa negara umumnya yang memiliki tugas untuk melakukan perhitungan Index Harga Konsumen adalah Badan Statistik Nasional, contohnya di Indonesia peran ini diemban oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Langkah awal yang dilakukan BPS untuk menghitung IHK dari tahun ke tahun adalah dengan mengumpulkan varian harga dari berbagai jenis barang dan jasa yang dilakukan secara acak dengan rentang yang cukup banyak dan bahkan hingga ribuan sampling barang. Pengambilan banyak sample ini bertujuan untuk memperoleh nilai Indeks Harga Konsumen yang lebih stabil dan akurat. (Baca Juga: Dasar Hukum Gadai , Cara Mendapatkan Modal Usaha)

Perhitungan nilai IHK tidak sekedar bertujuan untuk mengetahui inflasi, namun indeks ini membawa peran penting dalam menentukan langkah kebijakan yang akan diambil di masa mendatang mengenai perubahan terhadap beberapa masalah, yaitu.

  • Sebagai standar dalam menentukan perubahan besar kecilnya UMR di suatu daerah.
  • Memberikan kemudahan terhadap pemantauan kestabilan harga pasar.
  • Penentu arah kebijakan moneter dan fiskal yang bertujuan untuk pembangunan ekonomi. (Baca Juga: Ruang Lingkup Ekonomi Moneter)
  • Memudahkan dalam mengetahui tingkat penawaran dan permintaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (baca juga : hukum permintaan dan penawaran)

Contoh Perhitungan Laju Inflasi dengan IHK

Pertama temukan harga untuk produk-produk kebutuhan rumah tangga atau melihat dari data IHK yang sudah ada. Dari data tersebut akan muncul nilai dari pembobotan yang telah disesuaikan dan dihitung sesuai dengan total keseluruhan belanja yang ada. Misalkan kita mengambil data dari BPS untuk melihat statistik data yang ada di pasar, dari data diperoleh nilai IHK tahun 2016 adalah 123,62 dan IHK tahun 2015 adalah 118,71, maka untuk mengetahui besarnya laju inflasi tahun 2016 dapat dikalkulasikan dengan formula seperti berikut. (Baca Juga: Keuntungan dan Kerugian Bisnis Air Isi Ulang , Keuntungan dan Kerugian Bisnis Franchise)

Sebelum menghitung laju inflasi, terlebih dahulu kita harus mengetahui bagaimana konsep penentuan nilai IHK yang dihasilkan oleh BPS. Nilai IHK merupakan perbandingan harga antara harga saat ini dengan harga sebelumnya, dan periode ini bisa dihitung berdasarkan bulan maupun tahun. (Baca Juga:  Contoh Prinsip Ekonomi Dalam Kehidupan Sehari-Hari , Fungsi Ilmu Ekonomi)

IHK = (Pn/Po)x100%

Laju Inflasi tahun n = (IHK(n-IHK(n-1) )(1/IHK(n-1)) x 100%

Dimana :

  • Pn adalah harga saat ini.
  • Po adalah harga di tahun sebelumnya.
  • IHK(n) adalah IHK pada tahun dasar.
  • IHK(n-1) adalah IHK pada tahun sebelumnya.

Dengan memasukkan data IHK ke dalam rumus tersebut, maka.

Laju inflasi tahun 2016 = (123.62-118.71)(1/118.71) x 100%

Laju inflasi tahun 2016 = 4.1%

Dari perhitungan dengan menggunakan IHK diperoleh bahwa laju inflasi yang terjadi pada tahun 2016 adalah 4.1%.

  1. GDP Deflator (Gross Domestic Product)

GDP atau dalam bahasa Indonesia adalah Produk Domestik Bruto (PDB). GDP Deflator adalah sebuah indikator yang menunjukkan tingkat perubahan harga produk dan jasa yang ada di dalam negeri. Nilai GDP Deflator diperoleh dari total jumlah produk yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di wilayah dalam negeri atau domestik yang dihitung dalam kurun waktu satu tahun, produk yang dimaksud meliputi barang dan jasa. Dengan mengetahui nilai GDP Deflator akan mempermudah perhitungan terhadap laju inflasi yang terjadi dalam periode tertentu. Bagi Bank Sentral perhitungan ini memberikan informasi terhadap penentuan cara dalam menjaga kestabilan nilai mata uang, karena jika secara statistik nilai GDP deflator mengalami kenaikan maka mata uang negara tersebut akan mengalami penguatan, begitu juga sebaliknya ketika terjadi penurunan GDP deflator maka mata uang negara  mengalami pelemahan.

Baca juga :

Dalam menghitung GDP Deflator sangat bergantung pada dua nilai atau parameter penting yang akan menentukan tinggi rendahnya GDP Deflator dalam waktu tertentu, dua nilai penting yang dimaksud tersebut adalah GDP Nominal dan GDP Riil. GDP Nominal adalah nilai GDP yang muncul tanpa memperhatikan keterkaitan dengan pengaruh harga yang ada. Sedangkan GDP Riil atau sering disebut juga dengan istilah PDB Atas Dasar Harga Konstan merupakan nilai yang menunjukkan tingkat koreksi terhadap angka GDP Nominal, koreksi ini diperoleh dengan memasukkan unsur harga yang kemudian akan berpengaruh pada nilai GDP Nominal tersebut. Dengan melihat dua parameter tersebut dapat dikatakan bahwa perhitungan GDP Deflator diperoleh dengan cara membandingkan harga barang dan jasa yang diproduksi saat ini dengan harga barang dan jasa yang diproduksi pada tahun dasar atau tahun pembanding, dengan catatan harga jenis barang dan jasa yang dibandingkan memiliki jenis yang sama.

(baca juga : peran pasar dalam perekonomian , Jenis Instrumen Pasar Modal)

Sponsors Link

Jika dalam perhitungan IHK terdapat sebuah lembaga khusus yang memiliki peran dalam melakukan perhitungan harga yaitu BPS, maka sama halnya dalam perhitungan GDP Deflator, BPS juga memiliki peran yang sama dalam perhitungan data tersebut. Namun diantara kedua data tersebut terdapat mekanisme penyampaian laporan yang berbeda yaitu jika pada laporan IHK, BPS memberikan laporan dalam kurun tahun atau bahkan dalam tiap bulan, sehingga data inflasi tidak hanya bisa dilihat dari tiap tahun saja namun dapat dilihat perbandingannya pada tiap bulan yang sama dengan tahun yang berbeda. Sedangkan laporan GDP deflator dirilis setiap 3 bulan sekali dalam kurun waktu satu tahun.

(baca juga : peran kebijakan fiskal , Kebijakan Fiskal)

Cara Menghitung Laju Inflasi dengan GDP Deflator

Perhitungan GDP Deflator diperoleh dengan menggunakan formula sebagai berikut.

GDP Defaltor = (GDP Nominal/GDP Riil)x100%

Misal pada tahun 2015 diperoleh data GDP Nominal $ 100.000 dan GDP Riil $ 45.000, maka GDP deflator adalah.

GDP Deflator = (100.000/45.000)x100% = 222.22

Pentingnya menghitung laju inflasi adalah agar pemerintah mampu menentukan kebijakan dengan tepat atau tidak salah sasaran. Bagaimanapun dampak dari inflasi sangat buruk bagi semua lapisan ekonomi negara. Sebagai contoh dampak inflasi dalam kegiatan industri adalah meningkatnya kebutuhan modal untuk memperoleh bahan baku, modal yang terus meningkat akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Jika kondisi keuangan memburuk kemungkinan terjadinya potensi gelombang PHK semakin besar karena perusahaan tidak siap dengan dampak inflasi. Di lain sisi harga-harga yang terus naik akan berdampak pada mahalnya segala kebutuhan barang dan jasa, hal ini akan memicu berbagai masalah baru seperti tuntutan kenaikan upah atau standar UMR yang terus naik dari tahun ke tahun.

Baca juga :

Inflasi yang tidak terkendali juga aka mengganggu masyarakat untuk melakukan kegiatan investasi. Bagi perbankan inflasi memicu kenaikan suku bunga yang berdampak pada menurunnya kegiatan permodalan terhadap kegiatan usaha masyarakat. inflasi juga akan menghambat pemerintah dalam menjalankan program pembangunan negara, sehingga akan berakibat juga pada rendahnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi di suatu negara. Untuk mengatasi masalah inflasi, Bank Sentral adalah lembaga yang memiliki kewajiban dalam melakukan pengawasan, pengaturan, dan pelaksanaan terhadap semua kegiatan yang bertujuan untuk menghadirkan kebijakan-kebijakan yang terarah dan protektif terhadap kondisi keuangan dan ekonomi negara.

(baca juga : peran bank indonesia , Hubungan Ekonomi dan Politik)

Sponsors Link

*Jika artikel ini bermanfaat, mohon di share ^V^!

, , ,
Oleh :
Kategori : Ekonomi Makro