Sponsors Link

7 Penyebab Ekonomi Indonesia Tidak Stabil Dilihat Dari Berbagai Faktor

Penyebab ekonomi indonesia tidak stabil dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sejak masa krisis moneter 1992 atau sejak runtuhnya orde baru Indonesia memang dilanda krisis yang sangat panjang. Dampak krisis tersebutlah yang masih kita rasakan hingga saat ini. Turun naiknya pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh indonesia atau penyebab ekonomi melemah  menurut beberapa pengamat ekonomi tidak lain disebabkan oleh  dua hal yakni produksi dan pengeluaran. Sebagai negara berkembang tentu saja Indonesia amat bergantung pada negara maju yang selama ini melakukan aktivitas impor dalam skala besar.

ads

Salah satu yang menjadi tujuan impor produk Indonesia ialah negara China. Krisis yang dialami oleh China saat ini tentu sangat berpengaruh pada permintaan sejumlah komoditas sehingga juga menjadi penyebab ekonomi menurun . Meskipun pemerintah rutin melakukan konsolidasi dengan negara ekonomi kuat, namun dampak kriris china ini sangat berpengaruh pada penurunan permintaan. Tentunya ketidakstabilan ekonomi yang dialmi Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh satu sebab saja. Untuk lebih jelasnya berikut 7 penyebab ekonomi indonesia tidak stabil dilihat dari berbagai faktor. Simak selengkapnya.

1. Perencanaan yang Kurang Matang

Strategi dan rencana untuk mencapai pertumbuhan ekonomi pada semua lini memang telah ditetapkan. Target pertumbuhan ekonomi pada semua koridor memang sudah dijadwalkan sejak awal. Namun, eksekusinya pada saat dilapangan ternyata masih terdapat perubahan disana sini. Perubahan inilah yang kemudian secara tidak langsung akan mempengaruhi pelaksanaan dan eksekusi rencana yang telah dibuat. Bagaimanapun juga perubahan yang ada pasti akan memakan waktu sehingga target yang harusnya dapat tercapai tepat waktu cenderung menjadi molor. Simak juga perbedaan perusahaan  kecil menengah dan besar .

Penyebab utamanya ialah perencanaan yang digunakan dirasa tidak cukup matang. Dalam artian tidak memikirkan alternatif A, B, C atau D. Sebab jika tidak mengantisipasi faktor-faktor penghambat tentunya saat dihadapkan pada kondisi tidak memungkinkan maka tentu harus bisa mencari celah untuk tetap terus maju. Perencanaan yang tidak matang akan membuat rencana yang sudah jalan setengah jalan lalu kemudian terhambat, maka bisa dipastikan akan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan solusinya. Berbeda dengan perencanaan matang, jika terhambat maka sudah memiliki planning cadangan sehingga rencana akan tetap bisa berjalan dan target akan tercapai tepat waktu.

2. Proses Tender yang Bertele-tele

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesis memiliki sistem birokraai yang cukup rumit. Sebelum pasar bebas dibuka, untuk dapat mengekspor atau memgimpor barang kita harus melewati serangkaian tahapan panjang yang prosesnya bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Bisa anda bayangkan bagaimana para investor asing akan sabar menghadapi hal yang demikian. Sebab tentunya mereka ingi semuanya serba cepat dan kilat, karena pastinya mereka tidak inhin uangnya terbuang hanya untuk menunggu proses yang bertele-tele. Inilah salah satu penyebab mengapa para investor asing kurang tertarik untuk menginveatasikan dananya di pasar ekonomi kita.

Sponsors Link

3. Permasalahan Pencairan Dana

Serupa dengan penjelasan pada poin sebelumnya. Selain proses ang bertele-tele. Rata-rata perbankan kita enggan mencairkan dana (Disbursed Loan) terutama pada proyek yang sifatnya pembangunan infrastruktur. Sebab seauai dengan prosedur, perbankan tidak akan mau mencairkan pinjaman jika pembebasan lahan belum cleae atau tuntas. Inilah yang kemudian membuat beberapa proyek jalan tol dan infrastruktur besar lainnya mandek. Tentunya mandeknya pembangunan ini akan semakin berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi. Harusnya jika selesai tepat waktu maka tentu akan bisa menaikkan dan meningkatkan perekonomian pada wilayah dimana infrastruktur tersebut dibangun.

4. Pembangunan yang Kurang Tepat Sasaran

Banyak yang mengatakan bahwa Indonesia memiliki kebiasaan dalam pembangunan yang tidak bisa dihilangkan dari waktu ke waktu. Dimana terdapat proyek-proyek yang dinilai kurang strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Justru yang ada kemudian adalah pembangunan proyek yang pada akhirnya tidak banyak dilirik dan digunakan oleh banyak orang. Padahal pada faktanya masih banyak sejali terdapat peoyek yang harusnya menjadi poin utama pembangungan ekonomi. Seperti misalnya ada banyak sekali daerah pedalaman yang belum tersebtuh listrik. Selain itu juga banyak sekali jalan yang notabene merupakan penghubung satu daerah dan daerah lainnya terhambat.

Kondisi ini harus menjadi perhatian terutama oleh pemerintahan daerah. Sebab jika suatu daerah memiliki akses jalan yang bagus maka tentu perkembangan perekonomian akan lebih cepat. Sebagai contoh jika anda memilili kios yang berada disekitar jalan raya yang bagus tentu pasti akan didatangi banyak pembeli. Sebaliknya jika akses jalan untuk mendatangi tempat usaha anda jelek maka tentu konsumen akan malas. Nah, semakin banyak pembangunan strategis yang tepat sasaran maka tentu saja percepatan pertumbuhan ekonomi terutama di daerah dapat digenjot melalui jenis usaha mikro kecil dan menengah .

5. Dampak Krisis Ekonomi Global

Sebagai negara dengan ekonomi terkuat, krisis yang dialami oleh Amerika Serikat tentu sangat berdampak terutama bagi Indonesia yang notabene adalah negara berkembang yang sangat bergantung pada negara dengan ekonomi terkuat. Meskipun saat ini perekonomian Amerika berangsur-angsur kembali pulih namun pada faktanya pertumbuhan ekonomi belum tumbuh secara signifikan dan masih menjadi penyebab ekonomi lesu . Krisis yang dialami AS benar-benar memukul hampir seluruh negara di dunia.

Beberapa negara berkembang termasuk Indonesia tentu sangat merasakan dampaknya. Krisis ini membuat ekonomi dalam negeri menjadi tidak stabil. Sebagai akibat melemahnya bursa ekonomi. Serta kecenderungan dan ketakukan para pelaku pasar akan krisis yang menyebabkan transaksi ekonomi semakin melemah. Krisis global ini benar-benar memukul perekonomian kita. Meskipun beberapa sektor ekonomi tetap menggeliat namun beberapa usaha terutama usaha mikro kecil dan menengah mengalami dampak langsung dan harus gulung tikar.

Sponsors Link

6. Menurunnya Daya Beli Masyarakat

Penyebab utama ketidakstabilan ekonomi Indonesia disebabkan oleh semakin menurunnya daya beli masyarakat terhadap suatu produk yang tidak memahami cara mengatur keuangan bulanan . Penurunan konsumsi dan daya beli ini terjadi kepada mereka yang memiliki penghasilan rendah. Meskipun upah buruh dan kuli bangunan meningkat namun , imflasi yang terjadi belum mampu mengendalikan harha kebutuhan. Sehingga harga kebutuhan utama naik dan pada akhirnya gaji mereka hanya cukup untuk membeli kebutuha  primer saja. Inilah yang kemudian menyebabkan sektor properti, ritel makanan dan minuman mengalami penurunan penjualan yang cukup drastis.

7. Kurs Mata Uang yang Tidak Stabil

Kurs atau nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing diharapkan dapat terus stabil sebagai upaya untuk menstabilkan ekonomi. Pada faktanya menjaga kestabilan nilai kurs mata uang kita terutama terhadap dollar bukan hal yang mudah. Sebab ada berbagai faktor yang melatar belakanginya. Dalam perdagangan Intetnasional nilai mata uang yang digunakan ialah dollar, maka jika rupiah lemah terhadap dollar sudah pasti biasa impor barang akan naik. Sebab kita membayar menggunakan mata uang rupiah yang dikonversikan ke dollar. Ketidakstabilan nilai kurs mata uang rupiah inilah yang kemudian juga berpengaruh pada kestabilan perekonomian Indonesia.

7 Penyebab Ekonomi Indonesia Tidak Stabil  dilihat dari berbagai faktor. Tentu akan semakin menambah pengetahuan kita dalam memandang arti pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Ini bukan hanya tugas pemerintaj saja namun menjadu tugas kita bersama untuk bisa mencapai kejayaan ekonomi dan menghadapi era globalisasi dan pasar bebas dengan lebih siap. Semoga artikel ini dapat membantu.

, , , ,
Oleh :
Kategori : Ilmu Ekonomi