Sponsors Link

3 Jenis Pajak Menurut Sifatnya dan Penjelasan Lengkap

Pemerintah harus membiayai pengeluarannya termasuk pembayaran bunga atas akumulasi utang publik dengan menggunakan perpajakan, pinjaman dari pasar yaitu penjualan obligasi baru dan penggunaan uang cetak. Persamaan batasan anggaran pemerintah dapat ditulis sebagai:

G = T + ∆B + ∆M

Di mana G berarti pengeluaran Pemerintah, T untuk penerimaan pajak, AB untuk pinjaman baru (yaitu penerbitan obligasi baru) dan AM untuk uang baru yang dibuat. Menata kembali batasan anggaran pemerintah yang kita miliki

G – T = ∆B + ∆M

Ketika G melebihi T, kita memiliki defisit anggaran. Persamaan kendala anggaran (ii) mengatakan, bahwa defisit anggaran harus dibiayai baik oleh pinjaman baru oleh Pemerintah (∆B) pr dengan menggunakan uang cetak (AM).

Apa itu Pajak?

Pajak adalah pembayaran wajib yang dikenakan pada orang atau perusahaan untuk memenuhi pengeluaran yang dikeluarkan untuk memberikan manfaat umum kepada masyarakat suatu negara seperti contok pajak tidak langsung. Dua aspek pajak mengikuti dari definisi ini:

  • Pajak adalah pembayaran wajib dan tidak ada yang dapat menolak untuk membayarnya.
  • Penerimaan dari pajak digunakan untuk manfaat umum atau tujuan umum Negara. Dengan kata lain, tidak ada quid pro quo langsung yang terlibat dalam pembayaran pajak.

Ini menyiratkan bahwa seorang individu tidak dapat mengharapkan atau menuntut bahwa Pemerintah harus memberikan kepadanya suatu layanan khusus sebagai imbalan atas pajak yang dibayarkan kepadanya. Namun, ini tidak berarti bahwa Pemerintah tidak melakukan apa pun untuk orang-orang yang menerima pajak. Sebenarnya Pemerintah membelanjakan uang pajak untuk keuntungan umum atau umum semua orang daripada memberikan manfaat khusus pada pembayar pajak tertentu. Mengutip Taussig, “Inti dari pajak, sebagaimana dibedakan dari tuduhan lain oleh Pemerintah adalah tidak adanya quid pro quo langsung antara pembayar pajak dan otoritas publik.”

Pajak harus dibedakan secara cermat dari biaya. Fee juga merupakan pembayaran wajib yang dilakukan oleh seseorang yang menerima imbalan atas suatu manfaat atau layanan tertentu dari Pemerintah. Untuk membayar biaya pada televisi atau radio, seseorang mendapat manfaat dari program yang disampaikan oleh Pemerintah di televisi atau radio. Demikian juga, siswa yang membayar biaya pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi, memperoleh manfaat dari pengajaran yang diatur oleh Pemerintah.

Jumlah biaya selalu kurang dari biaya layanan yang diberikan oleh Pemerintah sebagai imbalan dan oleh karena itu hanya mencakup sebagian dari biaya layanan yang diberikan. Jadi, bahkan dalam hal biaya, ada kepentingan umum umum atau manfaat umum dari layanan yang diberikan oleh Pemerintah. Dalam hal ini, Pemerintah melakukan layanan untuk manfaat umum warga dan memperoleh biaya dari mereka yang memanfaatkan layanan tersebut untuk menutupi sebagian dari biaya layanan yang diberikan seperti ciri-ciri pemungutan pajak.

Klasifikasi dan Jenis Pajak Menurut Sifatnya

Jenis pajak menurut sifatnya telah diklasifikasikan secara beragam. Pajak bisa langsung atau tidak langsung, mereka bisa progresif, proporsional atau regresif, dan pajak tidak langsung bisa spesifik atau ad-valorem. Jenis pajak menurut sifatnya akan diuraikan di bawah ini.

1. Pajak Langsung dan Tidak Langsung

Perbedaan antara pajak langsung dan tidak langsung didasarkan pada apakah beban pajak dapat digeser seluruhnya atau sebagian kepada orang lain. Jika pajak sedemikian rupa sehingga bebannya tidak dapat dialihkan kepada orang lain dan orang yang membayarnya kepada Pemerintah juga harus menanggungnya, itu disebut pajak langsung. Pajak penghasilan, pajak kekayaan tahunan, pajak keuntungan modal adalah contoh pajak langsung. Dalam kasus pajak langsung, ada kontak langsung antara pembayar pajak dan otoritas publik pajak retribusi seperti jenis-jenis pajak penghasilan.

Di sisi lain, pajak tidak langsung adalah mereka yang bebannya dapat dialihkan kepada orang lain sehingga mereka yang membayar pajak ini kepada Pemerintah tidak menanggung seluruh beban tetapi meneruskannya seluruhnya atau sebagian kepada orang lain. Misalnya, cukai pada produksi gula adalah pajak tidak langsung karena manufaktur gula memasukkan cukai dalam harga dan memberikannya kepada pembeli. Pada akhirnya, itu adalah konsumen yang terkena bea cukai gula turun karena mereka akan membayar harga lebih tinggi untuk gula daripada sebelum pengenaan pajak.

Jadi, meskipun cukai ada pada produksi komoditas tetapi dapat dialihkan ke konsumen. Demikian juga, pajak penjualan atas komoditas juga dapat diteruskan kepada pembeli atau konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi yang dibebankan untuk komoditas. Oleh karena itu, cukai dan pajak penjualan atas komoditas adalah contoh pajak tidak langsung. Mereka juga dikenal sebagai pajak komoditas. Dalam kasus pajak tidak langsung, ada hubungan tidak langsung, antara Pemerintah dan mereka yang pada akhirnya menanggung beban pajak.


2. Pajak Khusus dan Ad-Valorem

Pajak tidak langsung dapat berupa spesifik atau ad-valorem. Pajak spesifik pada suatu komoditas adalah pajak per unit komoditas, berapa pun harganya. Dengan demikian jumlah pajak spesifik total akan bervariasi sesuai dengan perubahan total output atau penjualan komoditas dan tidak dengan nilai total output atau penjualan.

Di sisi lain, jenis pajak tidak langsung dari ad-valorem dikenakan sesuai dengan nilai komoditi. Misalnya, pajak penjualan di Indonesia adalah pajak ad-valorem karena tarif pajak penjualan dalam kasus beberapa komoditas adalah 10 persen dari nilai penjualan komoditas. Pajak Ad-valorem bersifat progresif dalam membebani konsumen, sedangkan pajak tertentu bersifat regresif.

3. Pajak Progresif, Proporsional dan Regresif

Menurut klasifikasi lain, pajak bisa progresif, proporsional atau regresif. Dalam hal pajak proporsional, tarif pajak yang sama dibebankan, berapa pun besarnya pungutan yang dikenakan. Misalnya, jika tarif pajak penghasilan adalah 25 persen berapa pun ukuran pendapatan seseorang, maka itu akan menjadi pajak penghasilan proporsional. Demikian juga, jika tingkat pajak kekayaan adalah 5 persen, itu akan menjadi pajak kekayaan proporsional.

Jadi, dalam kasus pajak proporsional itu adalah tingkat yang ditetapkan dan bukan jumlah absolut pajak. Jadi dengan tingkat pajak penghasilan proporsional 25 persen. Jadi, bahkan di bawah pajak penghasilan proporsional, orang kaya harus membayar pajak dalam jumlah yang lebih besar meskipun tarif pajaknya sama. Di sisi lain, dalam kasus pajak progresif, tingkat pajak meningkat karena jumlah basis pajak (pendapatan, kekayaan, atau benda lain) meningkat. Prinsip yang mendasari pajak progresif adalah bahwa semakin besar basis pajak, semakin tinggi tarif pajak. Di Indonesia, pajak penghasilan, pajak langsung penting yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, bersifat progresif.


Tingkatnya saat inibervariasi dari 10 persen. Di bawah pajak penghasilan progresif, orang kaya tidak hanya membayar pajak lebih banyak tetapi juga pajak yang lebih tinggi. Dengan demikian, beban pajak progresif lebih banyak jatuh pada orang kaya dibandingkan dengan pajak pendapatan proporsional. Pajak regresif adalah kebalikan dari pajak progresif. Dalam hal pajak penghasilan regresif, tarif diturunkan ketika pendapatan naik. Jadi, di bawah sistem pajak regresif, beban pajak relatif lebih banyak pada orang miskin daripada orang kaya. Karena itu pajak regresif tidak adil dan tidak ada Pemerintahan yang beradab di dunia saat ini akan memungut pajak semacam itu.

, ,
Oleh :
Kategori : Perpajakan