Sponsors Link

3 Jenis Kredit Bank Syariah

Jenis Kredit Bank Syariah, menjadi topik yang akan kita bahas dalam kesempatan ini. Bank syariah atau perbankan syariah adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha yang bersifat (haram).

Fungsi bank syariah tentu saja adalah untuk mengakomodir kebutuhan umat islam dan menjauhkan diri dari praktik ribawi. Selain itu juga kehadiran bank syariah memiliki fungsi dalam menghimpun dan menyalurkan dana kemasyarakat dengan sistem yang islami. Penyaluran dana dilakukan dengan sistem kredit yang pastinya berbeda dengan sistem yang di terapkan di bank konvensional.

Mengetahui betapa besar fungsi bank syariah apalagi di era kini dan juga dengan mayoritas umat muslim maka tentu kita harus mengetahui mengenai Jenis kredit bank syariah agar kita semakin mengenal lebih jauh mengenai bank syariah dan manfaatnya juga dalam salah satu dasar dasar perpajakan.

Pembiayaan modal kerja syariah

Pembiayaan modal kerja syariah merupakan pembiayaan dengan periode waktu pendek ataupun panjang yang diperuntukkan bagi para pengusaha yang membutuhkan tambahan modal kerja sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, modal kerja biasanya digunakan untuk kebutuhan membayar biaya produksi, membeli bahan baku, perdagangan barang dan jasa, pengerjaan sebuah proyek pembangunan dan lain-lain.

Program pembiayaan modal kerja syariah bisa didapatkan bagi mereka yang membuka atau memiliki usaha yang dinilai bisa memiliki prospek, tidak melanggar syariat islam dan peraturan perundangan yang berlaku sehingga berpengaruh pada cara menghitung pajak mobil. Ada 2 jenis kontrak dalam pembiayaan syariah untuk modal kerja, yakni  :

  1. Pembiayaan syariah untuk modal kerja dengan skema murabahah atau jual beli

Dalam skema pembiayaan murabahah ini, pihak bank syariah akan membiayai pembelian barang kebutuhan modal kerja yang dibutuhkan nasabah. Pembiayaan akan diberikan sebesar harga pokok dan ditambah dengan margin keuntungan untuk bank syariah yang mana sudah disetujui oleh pihak bank dan nasabah. Tingkat atau besaran keuntungan bank sudah ditentukan di awal perjanjian atau akad dan keuntungan ini menjadi bagian dari harga atas barang yang dijual.

Misalnya, seorang pebisnis yang bergerak di bidang jual beli baju online, mendapatkan pesanan baju senilai 100 juta, namun sang pengusaha hanya memiliki modal sebesar 50 juta saja. Maka kemudian pengusaha tersebut bisa mengajukan pembiayaan modal kerja sebesar 50 juta sebagai tambahan modal. Perlu Anda ketahui bahwa, jika bank menilai kebutuhan pengusaha cenderung ke kebutuhan material maka bank syariah akan memberikan pembiayaan modal kerja dengan skema jual beli. Dengan menetapkan margin keuntungan di awal perjanjian, misalnya sebesar 10 juta, maka total pembiayaan adalah senilai 60 juta.

 

  1. Pembiayaan syariah dengan skema kemitraan atau bagi hasil

Pembiayaan syariah pada skema ini didasarkan pada kemauan kedua pihak (bank dan nasabah) untuk melakukan kerja sama dalam upaya untuk menaikkan nilai aset mereka. Dalam kontrak perjanjian tertulis pula skema pembagian hasil keuntungan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Misalnya, seorang kontraktor yang mendapatkan kontrak pembangunan infrastruktur sebesar dengan total modal yang diperlukan untuk melaksanakan kontrak tersebut adalah Rp 2 miliar. Namun, pengusaha jasa konstruksi ini hanya mempunyai modal sebesar Rp1.5 miliar, masih kurang Rp500 juta.

Pembiayaan Konsumtif Syariah

Pembiayaan konsumtif syariah merupakan pembiayaan yang diperuntukkan bagi nasabah dengan tujuan di luar usaha dan bersifat perorangan. Berbeda dengan pembiayaan syariah untuk modal kerja yang bersifat produktif, pembiayaan konsumtif diperlukan oleh nasabah untuk memenuhi kebutuhan sekunder. Jenis akad yang paling sering digunakan dalam produk pembiayaan konsumtif syariah ada dua yaitu akad murabahah dan akad ijarah sebagaimana juga dalam salah satu dasar dasar perpajakan.

  1. Pembiayaan Syariah Untuk Kebutuhan Konsumtif Dengan Skema Murabahah

Dalam dunia perbankan syariah di Indonesia, akad murabahah merupakan salah satu akad yang utama dan yang paling sering digunakan. Dengan menggunakan akad murabahah, kalkulasi perhitungannya lebih mudah. Hampir di semua bank syariah di Indonesia memberikan fasilitas pembiayaan dengan menggunakan akad murabahah secara lengkap seperti  cara menghitung pajak progresif sehingg semua bisa merasakan manfaat membayar pajak.

  1. Pembiayaan Syariah Dengan Skema Ijarah

Setelah akad murabahah, skema pembiayaan kedua untuk kegiatan konsumtif syariah bisa menggunakan akad ijarah, dimana akad ini mirip dengan prinsip jual beli, namun berbeda pada objek transaksinya. Jika dalam transaksi jual beli obyek transaksinya adalah jenis barang. Dalam akad ijarah, pembiayaan diberikan untuk suatu jasa. Contohnya, adalah fasilitas pembiayaan konsumtif untuk memenuhi kebutuhan pembelian jasa paket perjalanan ibadah umroh. Dalam hal ini, biasanya bank syariah sudah melakukan kerja sama dengan agen travel sesuai dengan prinsip syariah.

Pembiayaan Investasi Syariah

Setelah pembiayaan modal kerja dan pembiayaan konsumtif syariah, maka yang ketiga adalah pembiayaan investasi syariah. Pembiayaan investasi syariah merupakan pembiayaan jangka pendek atau jangka panjang untuk melakukan pembelian barang-barang modal yang diperlukan dalam membuka atau mendirikan usaha baru, relokasi proyek, ekspansi ataupun penggantian mesin-mesin pabrik. Dalam pembiayaan investasi, ada 2 jenis akad yang sering digunakan, yakni akad murabahah dan ijarah muntahia bit tamlik atau IMBT. Salah satu bank yang menyediakan fasilitas ini adalah bank BCA Syariah.

Nah, itulah tadi penjelasan singkat mengenai 3 Jenis kredit bank syariah, semoga dapat bermanfaat.

, , ,
Oleh :
Kategori : Perbankan